Sunday, 15 July 2012

Artikel


               James "saya pria normal pasti tergoda"

 “Saya pria normal. Pasti tergoda”ungkapnya sambil tertawa ketika ditanya bagaimana menyikapi profesinya sebagai fotografer majalah dewasa (Popular) yang notabene bergelimangan model seksi.
            Melihat mahluk cantik, seksi, dan menggoda sering kali membuat fotografer ternama ini harus menahan emosi dikala mengingat tiga orang putri dan istrinya di rumah. Ini bukan hal yang mudah tapi baginya “jangan kita yang dikuasai model, tapi kita yang menguasainya”
                James Arthur Watulingas(39) pria kelahiran Jakarta 15 Juli ini lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang Fotografer. Kakek buyutnya, Kasian Cephas adalah Fotografer pertama di Indonesia. Beliau merupakan fotografer di Keraton atau di kerajaan – kerajaan. Sampai saat ini karyanya masih terawat di Jogja, Surakarta, dan Belanda.
            Mengawali karir sebagai Fotografer di ProGolf Magz(1997) membuat anak dari pasangan Leopold Everhard Watulingas dan Agatha Geraldine Cephas ini sempat menghentikan pendidikannya di IISIP saat semester VII(1996/1997) karena mengambil kesempatan magang yang membuatnya memutuskan untuk cuti selama 3 tahun.
            James mengaku sudah memegang kamera sejak masih kecil. Namun bakatnya baru terlihat ketika SMA saat bapak dari Kezia Kinza. W, Hanaya Isai. W, dan April Easter. W diminta untuk mendokumentasikan acara perpisahan sekolahnya. Sampai pada akhirnya menjadi professional saat sudah berstatus mahasiswa.
            Untuk menjadi sukses seperti saat ini tentu suami dari Novita Olgah Maryline Tengker ini sudah banyak merasakan asam garamnya dunia kerja dan kehidupan. Bahkan James sempat mengatakan bahwa  awalnya dia merahasiakan profesinya dari Istrinya meskipun akhirnya mengaku dan sang istri mulai menerimanya.
            “Wanita adalah sesuatu yang unik”katanya sambil tersenyum.
            Suksesnya pria yang hobi traveling, olahraga (footshal), dan tertarik pada dunia animasi ini tentu tidak lepas dari peran keluarga. Sempat memiliki kisah pilu ketika sempat terpisah dengan keluarga dan tinggal dipanti asuhan Van Pandesteur, Depok selama 4 tahun membuat James menjadi mandiri hingga seperti sekarang ini.
            Tidak puas dengan memotret model – model cantik, James yang memulai karirnya dengan kamera Nikon FM 2 mencoba peruntungannya disisi Budaya dan Journey.
            Pria yang memiliki prinsip “kenapa harus jadi follower kalau bisa jadi trendsetter” itu memiliki moto”jangan pernah takut melakukan suatu hal kecil untuk hal yang besar”tutupnya.                   

Tantangan Berburu Si Manis dari Palembang


Indonesia adalah negeri kaya cita rasa, itulah salah satu dari puluhan bahkan ratusan opini ketika mendeskripsikan negara Indonesia. Hal inilah yang menjadikan hampir disetiap kota di Indonesia memiliki makanan khas. Salah satunya adalah kota dibagian selatan Sumatera, Palembang. Bukan hanya empek-empeknya yang menggoyang lidah tetapi juga ada martabak india, kue masubah, kue delapan jam, dan lain sebagainya yang menjadikan kota ini sebagai salah satu tempat yang cocok untuk berwisata kuliner.
            Menapaki kota Palembang rasanya tak lengkap bila belum menelusuri sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera dengan panjang 750 km, yang membelah kota ini menjadi dua bagian kawasan, yakni Seberang llir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sambil menyelam minum air, sambil menikmati hamparan air yang luas dengan getek yang membawaku ke pulau Kamaro aku mengulik rasa ingin tahuku tentang kue yang hanya dapat ditemui saat hari – hari besar (perayaan) di kota ini pada pengendara getek.
Berawal dari mencicipi bekal teman saat duduk di sekolah dasar lidahku langsung jatuh cinta pada rasanya yang legit, kue maksuba, lapis legit khas Palembang ini hanya dijual di Palembang dan dihari – hari tertentu saja tapi tak lantas membuat saya patah semangat untuk tetap mencarinya meskipun saat itu bukan hari besar. Sayang rasanya sudah jauh – jauh berkunjung tapi tak mendapatkan keinginan terbesar saya untuk menapaki kaki di tanah Sumatera ini.

Sesuai informasi bapak setengah baya pengendara getek yang lupa saya tanyakan namanya biasanya kue maksuba di jual di toko oleh – oleh tapi lagi – lagi hanya di hari tertentu dan benar saja! Tiga toko sudah disambangi dan hasilnya nihil kalau pun mau harus memesan satu hari sebelumnya padahal besok saya dan keluarga harus kembali ke Jakarta.
            Hampir putus asa tapi akhirnya seorang guide membawa kami ke pasar 16 Ilir yang letaknya tak jauh dari jembatan ampera dan saya menemukannya! Senyum mengembang langsung merubah awan mendung diwajah saya. Dengan harga 110 ribu perloyang kecil saya sudah dapat menikmatinya. Kalau diibaratkan rasanya seperti klapertart.


Rona Merah di TransJakarta


Pagi itu aku memenuhi janji pada seorang teman seperjuangan. Kami sama – sama baru saja melewati hari – hari tegang tahap akhir sebagai seorang murid berseragam putih abu – abu. Paska Ujian Nasional yang dua minggu lalu serempak dilaksanakan oleh seluruh SMA, SMK, dan sederajat di seluruh Indonesia setidaknya membuat aku dan temanku ini menjadi seorang pengacara (pengangguran banyak acara) tapi sebagai cewek yang dalam proses beranjak dewasa kami mulai mengubah pola pikir kami yang kekanak – kanakan, seperti menghamburkan uang untuk keluar masuk bioskop dan bolak – balik ke Sevel sekedar menikmati chiki dengan saus keju atau barberque dan minuman bersoda yang beraneka rasa, untuk itu kami memutuskan untuk mengisi waktu libur panjang kami selama kurang lebih tiga bulan sebelum akhirnya kami berstatus sebagai mahasiswi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.
****
            Setelah semalam suntuk membuat surat lamaran pekerjaan dan daftar riwayat hidup, akhirnya dengan semangat 45 aku bangun tidur lebih awal dari biasanya. Kali ini sebelum ayah dan ibuku mengguncangkan tubuhku untuk segera bergegas bangun dari tempat tidur, aku sudah terlebih dahulu bangun dan siap melangkah ke kamar mandi.
            Semangat juangku ternyata tidak membantu membuat awan hitam yang dari tadi mendominasi langit pagi diatas sana berubah menjadi cerah. Seolah tak mendukung rencanaku. Kicauan burung kali ini juga tak terdengar seperti biasanya.
            Aku duduk sambil bertopang dagu di ruang tamu yang langsung menghadap ke taman. Sesekali melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Baru saja aku mendapatkan kabar bahwa di rumah temanku sudah turun hujan. Terpaksa dia menunda datang ke rumahku secepatnya. Kemarin kami berjanji akan berangkat bersama dari rumahku.
            Sekarang sudah pukul 08.20. Seharusnya dua puluh menit yang lalu kami sudah berada di dalam bis dan sekarang sudah dalam perjalanan, tapi turunnya hujan yang cukup deras sejenak menunda rencana kami. Hingga pukul 09.00 cuaca masih belum bersahabat dan kami memutuskan untuk nekat menerobos hujan dengan berlindung dibawah satu payung kecil milikku.
            Untuk kesekian kalinya aku mengeluh dipagi ini. Tobat, tobat, ada saja rintangannya. Ya hujan, baju basah, sekarang terjebak macet. Yang tadinya perjalanan hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam setengah, gara – gara penyakit lalu lintas Ibu Kota yang sulit diobati ini akhirnya kami tiba setelah menempuh perjalanan dalam waktu dua setengah jam.
            Pukul 11.30 kami menginjak pelataran depan bunderan HI, Sogo. Akhirnya kami keluar juga dari bis yang penuh sesak itu. Dengan wajah yang sudah lusuh dan pakaian yang nyaris kering kami melangkah dengan mantap menuju Grand Indonesia Mall. Meskipun kami tidak lagi fresh dan bentuk rambut yang sudah tidak karu – karuan tapi semangat juang kami patut dibanggakan karena tidak sedikit pun berkurang. 
            Awalnya kami sempat bingung harus masuk dari mana. Kebetulan ada guide tak terduga yang juga pejalan kaki, akhirnya kami ikuti mbak – mbak di depan kami yang sepertinya salah satu pekerja di mall ini dengan mengekor dibelakangnya.
            Mall ini tidak hanya besar tetapi juga mewah. Interior yang dipasang disetiap lantai bahkan sudutnya tampak elegan. Tidak sembarang orang yang berkunjung disini. Lihat saja dari tadi hanya orang berdasi dan berjas yang kutemui disetiap lantai.
            Sempat sedikit minder ditengah keramaian orang – orang kantoran. Apalagi kami hanya anak yang masih berstatus sebagai murid SMK yang datang untuk melamar pekerjaan, bukan untuk bersenang – senang.
            Tapi rasa minder itu seketika sirna ketika kami menyadari bahwa beberapa satpam yang kami lewati memperlakukan kami dengan hormat seperti menundukan kepala dan memberikan salam seperti yang mereka lakukan pada orang – orang kantoran tadi.
            “pagi bu”/”pagi mbak”sapa beberapa satpam. Ibu? oh My God! mungkin saat ini mereka mengaggap kami sebagai orang dari lembaga atau perusahaan, seperti tante – tante dan om – om yang kami temui tadi. Itu karena penampilan kami yang berbeda hari ini dengan busana kantor dan sedikit make up. 
            Perasaan kami campur aduk saat itu, malu, canggung dan senang karena disejajarkan dengan orang kantoran. Siapa yang tidak senang diperlakukan hormat seperti tadi? rasanya itu adalah sebuah pertanyaan retorik yang sudah pasti jawabannya tidak ada. Mungkin kalau kami datang dengan pakaian sehari – hari kami yang terkesan cuek aku yakin tidak akan ada satpam yang menundukan kepalanya dan mengucapkan salam ketika kami lewat, mungkin mereka hanya akan menganggap kami sebagai bocah ingusan yang sedang ingin cuci mata.
            “Ra, dihitung – hitung sudah berapa kali kita disapa dengan sebutan ibu? canggung aku jadinya. Apa wajah kita mirip ibu – ibu?”gerutu Nia sedikit berbisik.
            Aku terkekeh. “Mungkin lebih dari lima kali Ni. Bayangkan saja sudah lima lantai kita lewati sebanyak dua satpam di setiap lantai yang kita temui, semuanya hampir menyapa kita dengan sebutan ibu. Aku rasa bukan wajah kita, tapi penampilan kita. Sudahlah nikmati saja”
            “Nikmati sih nikmati tapi lama – lama bisa kering juga gigiku ini kalau harus terus senyum”
            “Salahmu sendiri kenapa nyengir, kita hanya perlu senyum bukan cengiran yang memamerkan deretan gigimu yang dipagari itu”
            “Kamu ini Ra bisa saja”dengan gemas Nia mencubit lenganku.
            Aku hanya terkekeh. Jalan dengan sahabatku yang satu ini ternyata cukup menghibur. Cukup lama kami tidak bertemu karena sejak SMK kami memang beda sekolah, tapi ketika bertemu lagi satu minggu yang lalu saat reuni SMP tidak ada yang berubah yang membuat kami jadi canggung. Masing – masing dari kami masih suka dan senang diajak bercanda, mengobrol, dan bertukar cerita. Hingga akhirnya waktu tidak terasa. Tiba – tiba kami sudah tiba dilantai tujuh. Tinggal satu lantai lagi kami sampai.
            Tapi .. .. Jreng! Jreng! Dimana lantai selanjutnya? Tidak ada eskalator menuju lantai selanjutnya dan saat ini kenapa kami bisa berada di parkiran! Loh?! Menurut informasi yang aku dapat, Blitz Megaplex berada dilantai delapan. Itu berarti seharusnya setelah lantai ini masih ada lantai lagi.
            “Ra, kayaknya kita salah jalan deh”tukas Nia sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling. Dari kaca, hanya terlihat puluhan bahkan ratusan mobil yang berderet begitu pula dilantai enam dan lima yang dapat dilihat dari sini.
            “Aduh Ni, malu aku turunnya. Mau ditaro dimana muka kita. Kita PD banget sih main naik aja bukannya tanya dulu”
            “Sama aku juga. Tapi kalo nggak turun memangnya kamu mau terus – terusan disini?”
            “Ya seenggaknya sampai satpam – satpam yang kita lewati tadi udah berjaga dilain tempat”
            “Permisi Ibu, ada yang bisa saya bantu?”tanya satpam yang sedang berjaga dilantai ini. Mungkin kegelisahan kami terlihat mencurigakan hingga membuat satpam yang tadinya sedang duduk disudut sana tiba – tiba datang menghampiri kami.
            Aku dan Nia menyeringai. “Ini pak, kita mau ke Blitz Megaplex tapi kok kayaknya salah jalan ya. Bapak tau Blitz Megaplex dimana?”Aduhhh bodohnya aku. Ya bapak ini pasti taulah secara dia satpam disini. Harusnya aku tanya begini “Blitz Megaplex dimana ya pak?”
            Bapak bernama Agus Salim, yang namanya ku ketahui lewat seragamnya itu tersenyum dengan ramah. “Oh mau nonton ya bu. Kalau begitu dari sini ibu turun belok kanan, kemudian lurus terus. Nanti disana ada eskalator ibu naik saja sampai lantai delapan”
            “Turun, belok kanan, lurus terus, ada eskalator naik sampai lantai delapan”ulangku sambil memainkan gerak tangan.
            “Iya betul”kata satpam itu.
            “Terima kasih ya pak”kataku dan Nia nyaris berbarengan.
            Akhirnya kami turun dengan membawa sedikit malu. Kami mengikuti instruksi bapak bernama Agus Salim itu, setelah turun, belok kanan, dan lurus terus. Astaga ternyata disetiap lantai ada lebih dari satu eskalator. Dan setiap eskalator menghubungkan ke lantai yang berbeda. Pantas saja kami keliru. Kalau begitu siapa yang salah? Kami yang tidak mau bertanya sebelumnya atau mallnya karena memiliki eskalator lebih dari satu disetiap lantai yang akhirnya membuat kami sebagai pengunjung jadi kebingungan.
            Sepanjang jalan menuju Blitz Megaplex kami menertawai kebodohan kami sampai akhirnya kami tiba di Blitz Megaplex. Dan .. .. Waw! Untuk pertama kalinya aku melihat bioskop sebesar ini. Ini bahkan tidak terlihat seperti bioskop tepatnya aula. Ada lahan kosong sebelum memasuki bagian pembelian tiket. Disitu ada Tempat duduk yang melingkar, pusat informasi yang akan kami tuju, dan lagi – lagi eskalator!
            Sejenak kami tinggalkan kekaguman kami pada bioskop sangat besar ini dan sudah pasti harga tiketnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan bioskop – bioskop lain. Kami menuju pusat informasi untuk menanyakan kebenaran info lowongan kerja yang aku dapat.
            “Iya mbak benar”satpam bernama Danu yang lagi – lagi ku ketahui namanya lewat seragamnya itu membenarkan klarifikasiku. Saat ini memang benar bioskop ini sedang membutuhkan banyak SDM untuk mengisi berbagai macam posisi.
            Tanpa bertele – tele aku dan Nia mengeluarkan amplop cokelat berisi surat lamaran dan berkas – berkas pendukung lainnya kemudian menyerahkannya pada pak Danu. Kami diminta untuk menuliskan nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi dibuku ekspedisi.
****
            Menjelang jam makan siang aku dan Nia bermaksud untuk pulang dan mampir ke blok M untuk mengisi perut yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Mahluk – mahluk kecil di dalam perut kamu sudah berdendang sejak beberapa menit yang lalu.
            Kata Nia kalau jam makan siang seperti ini Jalanan pasti macet. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil jalan pintas, dengan menaiki transportasi yang bebas dari kemacetan lalu lintas karena memiliki jalur khusus, yaitu TransJakarta atau yang akrab disebut busway.
            Ini pertama kalinya aku naik busway. Agak ribet mungkin karena aku belum terbiasa, dari sogo kita harus menaiki jembatan penyebrangan untuk sampai di halte busway terdekat. Dan jembatannya cukup panjang, cukup menguras tenagaku yang sudah mulai habis karena kelaparan dan kepanasan.
            Setelah membeli Karcis seharga Rp 3500/orang, kami masih harus menunggu kedatangan transportasi kebanggaan Jakarta. Saat ini tidak banyak orang yang sedang menunggu, mungkin hanya sekitar sepuluh orang termasuk aku dan Nia. Kebanyakan Busway datang untuk ke arah kota sedangkan untuk arah sebaliknya dari sepuluh menit kami menunggu hanya ada satu itu pun penuh. Lima belas menit, dua puluh menit, berapa kali sudah aku menguap, bosen menunggu busway yang tak kunjung datang.
            “Ni, nanti biarpun rame kita naik aja deh. Udah laper banget nih, nggak tahan perut udah keroncongan”kataku.
            “Iyaaa. Tadi kan udah aku paksa naik, tapi kamunya nggak mau”
            “Iya deh nanti nggak nolak lagi”
            Dan .. yang kami tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Dari yang sebelumnya tidak ada perubahan yang signifikan tetap saja rame. Mau tidak mau demi perut aku dan Nia serta beberapa orang akhirnya naik.
            Benar saja kami tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri ditengah – tengah padatnya penumpang. Bahkan untuk berdiripun hanya ada sedikit celah. Oh my God! sabar, sabar. Belum sampe sepuluh menit perjalanan aku sudah berkali – kali mengganti gaya berdiri. Pertama aku menggegam erat tangan Nia sambil menggenggam besi di dekat pintu. Gaya kedua telapak tanganku menemplok dipergelangan tangan orang dan terlepas dari genggaman tangan Nia karena seseorang berbadan tambun tidak sengaja terdorong karena pengemudi ngerem mendadak dan akhirnya aku dan Nia terpisah. Sekarang Nia entah dimana, badanya tertutup orang – orang disekelilingku. Gaya ketiga, atau yang sekarang cukup membuatku berada dalam posisi wena (PW) kedua tangan menggenggam pegangan khusus yang tertempel dilangit – langit busway.
            Kami sudah melewati dua halte menuju halte pemberhetian terakhir, yaitu di Blok M. Selama itu pula aku merasa cukup nyaman hingga aku ketahui ternyata saat ini Nia sedang duduk berada tak jau dariku. Sementara aku tetap berdiri bergelantungan dengan keringat yang dengan lancar meluncur dari kepala turun kewajahku. Ac busway tidak lagi terasa semakin banyaknya penumpang yang naik dari halte ke halte.
            Cittt .. lagi – lagi pengemudi busway ngerem mendadak. Dan aku?! terlepas dari pegangan setelah sebelumnya sempat berputar ditempat terpelintir oleh gerakan sendiri sampai akhirnya jatuh pada pangkuan seseorang yang sudah pasti tidak aku kenali. Aku lepas kendali. Oh my God! Seandainya wajah ini dapat dicopot untuk sementara dan muat ku masukan dalam kantong pasti sudah aku lakukan tapi sayang mustahil. Mau dikata apa? Aku sudah malu dan jadi pusat perhatian orang satu busway. Tidak sedikit orang yang menertawaiku. Ada yang menahan tawa bahkan ada yang terang – terangan tertawa seperti Nia. Dia tidak bisa menahan tawanya, hingga tawanya pecah dan diikuti beberapa orang tak berperasaan lainnya.
            “Aduh mas maaf ya mas”kataku tidak enak lalu segera bangun dan meraih pegangan yang tadi sempat terlepas dari genggamanku.
            Tidak terbayang seperti apa merahnya pipiku saat ini yang jelas terasa panas dan aliran darah seolah menjalar dan berkumpul diwajah. Aku benar – benar malu dan merasa dipermalukan. Huaaaaa mamaaaaa aku malu!
            Mas itu hanya mengangguk dengan senyum sedikit dipaksakan. Dia pasti gondok padaku. Karena sebelum akhirnya aku menibannya dengan kasar aku sempat menginjak kakinya dengan high heelsku. Aku benar – benar merasa bersalah.
            Untungnya mas ini tidak minta ganti rugi apa – apa atas kakinya yang sudah pasti sakit karena ku injak tadi atau paling tidak marah – marah, tapi justru karena kebaikannya itu yang bikin aku jadi semakin merasa bersalah.
            Tidak lama setelah itu mas berkemeja putih dan bermata sipit yang mungkin menganggap hari ini adalah hari sialnya karena ketidak sengajaanku tadi, berdiri dan memintaku duduk ditempatnya dengan alasan dia akan segera turun.
            “Silahkan duduk mbak, saya mau turun sebentar lagi. Daripada nanti ada korban lagi kayak saya”katanya lembut tapi nguenaaa banget. Maksudnya apa???