Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, 25 April 2015

Potensi Bhutan Dalam Mengembangkan Asia Selatan



Tidak banyak yang tahu bahwa Bhutan adalah sebuah negara. Minimnya pemberitaan mengenai negara kecil di kawasan Asia Selatan ini membuat negara yang dihimpit oleh India dan Republik Rakyat Thiongkok asing ditelinga. Padahal Bhutan merupakan negara yang cukup menarik, hal ini dibuktikan dengan keberhasilan negara yang sempat penganut sistem monarki absolut (kini demokrasi) ini dalam menginspirasi negara-negara maju seperti Amerika serikat dan Jepang melalui prinsip dari mantan Raja Bhutan, Jigme Singye Wangchuck IV yang disebut dengan teori Model Bhutan yang berarti mementingkan perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional diletakkan di atas perkembangan ekonomi[1]. Sehingga melalui ketetapan standar Gross National Happiness (GNH), Bhutan didaulat sebagai negara paling bahagia di dunia.

Sebagai negara berkembang, ekonomi Bhutan berasal dari industri rakyatnya seperti kerajinan tangan dan produksi seni keagamaan untuk altar rumah. Hampir sebagian besar penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian, peternakan, dan pengrajin tangan yang sebenarnya bisa diekspor ke negara lain. Namun karena pembangunan jalan dan infrastruktur yang mahal sehingga tidak ada akses untuk dilalui khususnya laut, ini menyebabkan Bhutan tidak dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan pedagangan internasional.

Menyambung pemaparan diatas bahwa Bhutan, tidak seperti negara lain yang berada di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Sri lanka yang sering menjadi sorotan perihal konflik, kerjasama ekonomi, untuk itu penulis tertarik untuk mengangkat tema penulisan mengenai negara terkecil di kawasan Asia Selatan ini. Bagaimana dengan posisinya sebagai negara kecil yang tergabung dalam keanggotaan South Asian Association For Regional Cooperation (SAARC) berkontribusi dalam mengembangkan Asia Selatan.

Sebagai negara yang berada dikawasan Asia Selatan, praktis Bhutan tergabung dalam South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) yang merupakan asosiasi kerjasama regional Asia Selatan yang terdiri dari 8 negara di Asia Selatan seperti, Afganistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka yang bertujuan untuk mencapai integerasi ekonomi regional. Proses Integerasi tersebut dibuktikan melalui SAFTA (South Asia Free Trade Area) atau zona perdagangan bebas Asia Selatan. Salah satu kebijakan program kerjanya adalah mengurangi bea atau hambatan tarif guna meningkatkan perdagangan dan kerjasama ekonomi antara negara-negara SAARC serta memberikan preferensi khusus bagi negara-negara terbelakang antara negara-negara Asia Selatan.[2]

Awalnya organisasi  ini didirikan oleh 7 negara yakni  India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Maladewa, Bhutan pada Desember 1985. Kemudian Afghanistan bergabung pada April 2007, saat KTT SAARC ke 14, ini merupakan organisasi regional terbesar dimana memiliki jumlah penduduk sebanyak 1,5 miliar orang. Seperlima dari penduduk dunia.

Terbentuknya SAARC dilatarbelakangi oleh konflik-konflik yang terjadi di kawasan Asia Selatan, diantaranya seperti, konflik India dengan Pakistan, pemisahan Pakistan dari India, pecahnya Pakistan Timur menjadi Bangladesh, dan banyaknya militan pendukung terorisme disetiap negara-negara tersebut yang sering kali mengakibatkan hilangnya nyawa penduduk sipil dan memperburuk keadaan ekonomi dari negara-negara tersebut.

Melalui SAARC, Bhutan dan negara-negara anggota lainnya bekerjasama melalui sebelas bidang yang telah disepakati bersama, diantaranya adalah pertanian, pendidikan, budaya dan olahraga, kesehatan, populasi, dan kesejahteraan anak, lingkungan dan meteorologi, pembangunan pedesaaan, pariwisata, transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, komunikasi
Masing-masing negara anggota SAARC memiliki tugas untuk mempromosikan kerjasama regional, tidak terkecuali Bhutan. Bhutan menjadi pusat regional dalam bidang SAARC Development Fund dan SAARC foresty center.

 SAARC development fund merupakan dana pembangunan Asia Selatan yang tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan industri, pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, pengembangan sumber daya kelembagaan / manusia dan promosi proyek pembangunan sosial dan infrastruktur di wilayah SAARC.[3] SADF dimulai dengan basis sumber daya dari US $ 5 juta (kontribusi secara pro-rata oleh negara-negara anggota SAARC), dan sampai penutupan pada bulan Juni 2008, memiliki dana sebesar kira-kira. US $ 7,0 juta. Hingga penutupan, SADF menyelesaikan studi kelayakan tekno-ekonomi selama enam belas studi proyek.

Sementara SAARC foresty center merupakan pusat kehutanan SAARC yang dibangun dengan dilatarbelakangi oleh keperihatinan negara-negara anggota SAARC terhadap kehancuran hutan dan bencana alam akibat degradasi lingkungan yang terus menerus. Bhutan dipilih sebagai pusat kehutanan SAARC karena memiliki keunggulan dibidang lingkungan. [4]
Mengingat begitu pentingnya integerasi ekonomi dalam menciptakan perdamaian, keterbukaan, kesejahteraan, dan jauh dari kemiskinan serta penindasan di kawasan Asia Selatan, maka ekonomi pasar sangat berpengaruh dalam hal ini.

Peran kedelapan negara dalam melakukan upaya-upaya tercapainya integerasi regional sangat dibutuhkan. Setiap negara memiliki potensi yang berbeda diukur dari segi infrastruktur, sumber daya, dan aspek lainnya. Latar belakang aspek tersebut berdasarkan sejarah masing-masing negara. Sebagian besar negara di wilayah Asia Selatan merupakan bekas jajahan Inggris, termasuk Bhutan. Negara ini memerdekakan diri pada 1907. Dalam aspek ekonomi, peran Bhutan dalam SAARC ditempatkan pada posisi low power bersamaan dengan Maladewa (Maldives). Hal ini didasari pada beberapa faktor, salah satunya adalah pembangunan jalan dan infrastruktur yang mahal sehingga tidak ada akses untuk dilalui khususnya laut, sehingga menyebabkan Bhutan tidak dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan pedagangan internasional.

Selain itu Bhutan belum pernah terlibat dalam suatu perjanjian internasional skala besar, hal ini bisa jadi sebagai salah satu faktor minimnya pemberitaan mengenai Bhutan karena dianggap tidak memberikan pengaruh besar terhadap polemik dunia. namun seiring berjalannya waktu Bhutan terus meningkatkan kerjasama dengan mitranya, terutama India dengan fokus utamanya adalah aspek ekonomi dan kemanusiaan. Selain India, mitra kerjasama Bhutan adalah tentu negara-negara Asia selatan lainnya, diluar dari itu diantaranya Indonesia dan Austria. Bhutan membina hubungan baik dengan Austria. Austria memberikan bantuan berupa dana sebanyak 2.15m euro, dengan tujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Bhutan dengan Austria. Bhutan tercatat memiliki hubungan diplomatik dengan 22 negara, termasuk Uni Eropa.

Kemajuan Bhutan tidak terlepas dari hubungan baik dengan India yang merupakan mitra dagang terbesar Bhutan, yang kedekatannya diawali dengan dukungan penuh India terhadap peralihan ideologi Bhutan dari monarki konstitusional menjadi demokrasi, kemudian Bhutan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan India pada 15 Agustus 1947.  Salah satu bentuk nyata dari kerjasama kedua negara adalah Bhutan menjual PLTA ke India, indian railways merencanakan menghubungan Bhutan selatan dengan jaringannya yang luas di bawah persetujuan yang ditandatangani pada Januari 2005 hal ini dilakukan untuk membantu Bhutan agar memiliki akses jalan yang mudah sebab Bhutan tidak memiliki jalur kereta api.
Peralihan ideologi atau sistem pemerintahan Bhutan dari monarki absolut menjadi demokrasi memberikan keuntungan dan pengaruh terhadap aspek IPOLEKSOSBUD Bhutan, terutama dalam aspek ekonomi. Selain mendapat sambutan dan dukungan baik dari dalam negeri, Bhutan juga mendapat bantuan dari negara-negara yang mendukungnya. Ekonomi Bhutan berkembang pesat, kerjasama mulai dibangun baik bilateral maupun multilateral.

Hingga akhirnya standar hidup Bhutan berkembang dan merupakan salah satu yang terbaik di Asia Selatan. Sepak terjang Bhutan di dunia internasional tidak banyak yang tahu, tidak ada pula catatan perihal partisipasi Bhutan dalam keikutsertaan dalam konflik. Artinya Bhutan bisa disebut sebagai negara yang jauh dari pertikaian. Sehingga Bhutan bisa memiliki potensi sebagai negara penyeimbang yang dapat menengahi negara lain yang sedang bertikai. Bhutan mungkin memang bukan negara adidaya yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap dunia, namun negara yang memiliki 4 pilar ini, yakni  pembangunan berkelanjutan, promosi nilai-nilai budaya, konservasi lingkungan hidup dan pemerintahan yang baik.

Promosi nilai-nilai budaya yang menjadi salah satu pilar negara ini merupakan salah satu potensi yang dimiliki Bhutan untuk mengembangkan Asia Selatan. Bhutan merupakan pasar yang potensial untuk menarik wisatawan asing, artinya sektor pariwisata yang dikembangkan akan mampu meningkatkan devisa negara. Namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi Bhutan yakni  kurangnya infrasturktur dalam negeri, keterbatasan alat transportasi dan fasilitas umum yang kurang memadai. Bhutan dianggap sebagai negara yang memiliki keunggulan dibidang lingkungan dikawasan Asia Selatan, sehingga negara tersebut menjadi pusat kehutanan SAARC. Kemudian Bhutan dapat berkontribusi melalui promosi kebudayaan. Salah satu contoh kebudayaan Bhutan adalah tari topeng dan sendratari adalah segi tradisional umum pada festival, biasanya disertai dengan musik tradisional. Sekaligus sebagai bentuk  pelestarian adat dan keagamaan.

Daftar Pustaka


[2] http://saarc-sec.org/areaofcooperation/detail.php?activity_id=5
[3] www.sdf.gov.bt
[4] www.sfc.gov.bt

Tuesday, 16 July 2013

Kementrian Agama tentukan Awal Bulan Ramadhan

Diamma.com – Awal ramadhan resmi ditetapkan pada Rabu 10 Juli 2013 sebagaimana yang telah disepakati dalam sidang Itsbat pada Senin (08/07/2013) di Departemen Agama. Sidang tersebut dihadiri oleh Ketua komisi VIII DPR RI, Pimpinan Ormas dan instansi terkait, undangan, dan Duta Besar negara-negara sahabat. Sidang ini memaparkan posisi pemerintah dalam konteks penyelenggaraan sidang Itsbat untuk menentukan awal Ramadhan. Dalam hal ini, pemerintah adalah pihak yang berhak membuat keputusan. Dalam paparan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa secara astronomi posisi hilal sudah jelas, yang menjadi persoalan adalah kriteria yang digunakan dalam menentukan awal ramadhan.
Berdasarkan Fatwa MUI No. 2 tahun 2004 penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI dan berlaku secara Nasional. Dan hal ini telah dilakukan di setiap provinsi di Indonesia. Dari hasil laporan 36 orang di 33 provinsi di Indonesia menyatakan bahwa hilal belum terlihat sampai pada saat sidang berlangsung.
“Dari NASSA tinggi hilal adalah 0,39 derajat di Jakarta dan menurut pakar astronomi itu impossible. Sehingga kami menetatpkan awal bulan Ramadhan adalah hari Rabu,” ungkap Al Irsyad Islamiah, satu dari dua belas penanggap. Pihak Al Irsyad Islamiah juga mengungkapkan bahwa meskipun ada perbedaan penilaian, dihimbau bagi ormas lain untuk melihat pada persatuan umat islam yang lebih penting.
Wakil Ketua Umum bidang eksternal Ormas Islam yang turut setuju pada penetuan awal bulan Ramadhan menambahkan bahwa persoalan hanya pada kriteria dan membutuhkan komunikasi yang intensif agar dapat mendapatkan keputusan yang baik.
Sepuluh penanggap lainnya yakni Lembaga Persahabatan Umat Islam, Pengurus besar Nahdatul Ulama, Sarekat Islam, Dewan Dakwah Islam, Sekretaris Majelis Ulama PUI, Robitoh Alawiyah, pengurus besar Alwasliyah, dan Ketua Umum Wahdah Islamiyah memiliki penilaian penetapan awal bulan Ramadhan yang sama, sehingga Kementrian Agama sah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 10 Juli 2013.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Fotografer : Achmad Rafiqhttp://diamma.com/?p=12324

Senat FISIP Sukses Gelar Seminar Nasional

Diamma.com –Senat Mahasiswa FISIP UPDM(B) adakan Seminar Nasional bertema “Menilai Kebijakan Pembangunan Nasional Era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono”, Rabu (08/05/2013). Meski tanpa kehadiran Rizal Ramli seperti yang telah dipublikasikan sebelumnya, seminar ini tetap berlangsung dengan sukses.
Acara yang berlangsung di auditorium FISIP tersebut dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III FISIP UPDM(B), dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para pembicara. Budiman Sudjatmiko, anggota DPR RI yang juga salah satu pembicara dalam seminar, dalam pidatonya berharap agar melalui seminar ini mahasiswa sebagai agen perubahan dapat mengambil sikap yang tepat dalam segala hal.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam membangun mahasiswa untuk lebih berpartisipasi dalam perubahan pembangunan nasional. Antusiasme mahasiswa pun terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang dilontarkan kepada pembicara pada sesi diskusi.
Lifedoory, mahasiswi FISIP Hubungan Internasional mengatakan bahwa, banyak hal yang dapat diambil dalam seminar kali ini. “Bukan hanya dapat menambah wawasan tentang bentuk pemerintahan Indonesia, tapi juga membentuk sikap dan karakter mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa,” tanggap mahasiswi yang juga aktif saat sesi diskusi dalam seminar.

Reporter: Arimbi Puspita Ratri / Foto: Dok. Panitia Seminahttp://diamma.com/2013/05/09/senat-fisip-sukses-gelar-seminar-nasional/

Agung: Mahasiswa Harus Tahu Hak dan Kewajiban

Diamma.com –Menjelang Ujian Tengah Semester tidak sedikit mahasiswa UPDM (B) yang belum melengkapi persyaratan seperti melunasi biaya perkuliahan. Padahal, pihak kampus telah memiliki Kalender Akademik yang dibuat untuk mahasiswa dan dosen sebagai perencanaan yang sudah terprogram. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki kesiapan dalam berbagai hal seperti finansial dan akademis. Tetapi, pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang acuh terhadap perencanaan yang terlah dibuat. Hal ini dibuktikan dengan kesibukan mahasiswa dalam mengurusi surat dispensasi pada H-3 Ujian Tengah semester.
“Ini (kalender akademik) setahun yang lalu sudah dibikin, mahasiswa seharusnya sudah tahu jadwal UTS kapan, UAS kapan, bayaran kapan,” tutur Agung Setiyo Hadhi, Wadek III bidang kemahasiswaan Fakultas Ekonomi. Agung menambahkan bahwa mahasiswa harus tahu hak dan kewajibannya sebagai seorang pelajar Perguran Tinggi, jangan hanya bisa menuntut.
Meskipun peraturan yang telah dibuat pihak UPDM (B) fleksibel atau tidak kaku, mahasiswa harus tetap menjalankan sesuai prosedur.
“Peraturan kita tidak kaku, tetapi mahasiswa juga harus merencanakan menejemen yang baik. bahwa untuk pembayaran itu sudah harus disiapkan karena waktunya satu semester,” kata Paiman Rahardjo, Wadek III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Mengingat tunggakan biaya sering kali terjadi, mahasiswa diminta untuk mengambil SKS sesuai dengan kesanggupan finansial masing-masing, jangan karena mengejar target lulus dengan waktu yang singkat kemudian mengambil SKS dengan jumlah yang banyak tanpa dipikirkan secara matang karena nantinya justru akan menyulitkan.
Pihak kampus sendiri tidak ingin membebankan, untuk itu mahasiswa masih diberikan toleransi pembayaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan membuat surat pernyataan ketidakmampuan membayar dengan alasan yang jelas. Toleransi tersebut diberlakukan untuk UTS, namun saat UAS mahasiswa harus sudah melunasi tunggakan sebab laporan keuangan harus segera diserahkan mengingat akan menjelang tahun ajaran baru.
“Kalau di UTS ini masih ada toleransi tetapi pada saat nanti UAS itu kan keuangan harus masuk setor kemudian laporan, ada tahun ajaran baru juga, mau nggak mau harus lunas”papar paiman.
Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Foto : Dok. Google.comhttp://diamma.com/2013/04/25/agung-mahasiswa-harus-tahu-hak-dan-kewajiban/

Mahasiswa FIKOM Akui Sulit Mengurus Surat Dispensasi

Diamma.com –Jumat (19/04/2013) lalu merupakan hari terakhir pengurusan surat dispensasi bagi mahasiswa FIKOM dan FE UPDM (B) yang belum melunasi biaya perkuliahan semester genap 2012/2013. Surat dispensasi tersebut berupa perjanjian di atas materai mengenai kesanggupan mahasiswa dalam membayar tunggakan pada batas waktu yang telah disepakati. Hal ini dilakukan demi mendapatkan izin mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) yang dilaksanakan pada Senin, 22 April 2013. Namun, syarat pengurusan surat dispensasi kali ini dirasakan sulit oleh beberapa mahasiswa FIKOM, pasalnya mereka harus membayar paling tidak setengah dari beban tunggakan.
“Merasa sangat dipersulit karna persyaratannya harus membayar setengah dari kekurangan untuk minimal pembayaran. Tahun sebelumnya nggak terlalu sulit ya kalo menurut gue, masih bisa didispen meskipun nunggak dua juta ke atas. Tapi kalo sekarang satu juta ke atas udah susah,” ujar Mizan Muhammad Andal, mahasiswa FIKOM 2010.
Selain itu menurut Avissa Harnes, Mahasiswi FIKOM semester empat, untuk memproses surat dispensasi membutuhkan kesabaran yang ekstra dan waktu yang cukup lama. Hal ini dikarenakan Harti Yuwarti, selaku Wakil Dekan II yang menangani bagian keuangan terkadang sulit untuk ditemui. “Harus bolak-balik mengurus dokumen yang harus difotokopi, belum lagi terkadang ditahan dulu beberapa saat untuk memberikan keterangan alasan yang jelas,” keluh Avissa.
Terkait dengan hal ini, syarat UTS kali ini juga berbeda dengan sebelumnya. Tahun kemarin, untuk mahasiswa yang belum dapat melunasi biaya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian tanpa harus membuat surat dispensasi dan diberikan toleransi untuk melunasi tanggungan tersebut setelah UTS.
“UTS yang kemarin itu walaupun bayarnya belum lunas bisa langsung ambil kartu aja disini nggak usah pake surat dispen kecuali UAS tapi sekarang kenapa nggak bias?” lanjut Avissa.
Avissa juga menambahkan, sebaiknya kalau hanya masih UTS tidak perlu membuat surat dispensasi, meskipun memiliki tunggakan, kecuali pada saat Ujian Akhir Semester tidak ada toleransi lagi bagi yang belum membayar.
Terakhir, Mizan berharap, “jangan dipersulitlah. Kita kan pengen kuliah, juga sama-sama butuh,” tutupnya.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/foto : dok. Goggle.comhttp://diamma.com/2013/04/25/mahasiswa-fikom-akui-sulit-mengurus-surat-dispensasi/

Gajetto, Tempat Hang Out 2 in 1

Diamma.com – Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pribahasa ini cocok untuk mewakili sebuah cafe dan store dibilangan Kemang Selatan VIII No 67 H-1, Jakarta. Two in one, tidak hanya lidah yang  akan dimanjakan di sana tetapi juga mata. Sambil mengisi energi dengan menu yang dapat menggoyang lidah, kita dapat mencuci mata dengan koleksi gadget dan aksesorisnya yang ditawarkan. Mulai dari tele kamera, handphone, flashdisk unik, toys figure, casing iPhone, dan masih banyak lagi. Gajetto Geek Cafe Store, sebuah inovasi tempat hang out yang strategis dan ekonomis, yang diciptakan untuk para pecandu gadget. Sesuai dengan makna dari nama kafe ini, kata geek berasal dari bahasa Inggris yang artinya aneh atau pecandu, sementara gajetto diambil dari bahasa Jepang yang merupakan serapan dari kata gadget. Tapi, geek di sini bukan berarti aneh, melainkan fanatik atau antusias pada teknologi, seperti para pemilik dari cafe&store ini.
Adalah Adit yang merupakan seorang graphic designer, dan Dion seorang young entrepreneur yang merupakan pemilik dari Gajetto Geek Cafe Store. Berdasarkan keterangan mereka, rata-rata barang yang ada di kafe ini diimpor dari Hong Kong, Cina, dan Amerika khusus untuk aksesoris Apple.
“Kalau mereka memang geek, belum klop kalau belum datang ke Gajetto Geek,” ujar Sadra, salah seorang store crew.
Meskipun baru resmi dibuka November 2012, cafe and store yang memiliki konsep industrial, game, dan ramah lingkungan ini telah menarik perhatian khalayak ramai. Mulai dari tatakan gelas yang dibuat dari disket, kursi yang menggunakan krat soft drink, wastafel berupa CPU, pajangan dari kran air, serta toots keyboard dan kaset tempo dulu yang disusun diapik di dalam meja kaca turut menjadi daya tarik tersendiri. Retno, salah satu pengunjung, merasa tertarik dengan desain interior kafe yang terlihat unik, menarik, dan sarat akan unsur recycle tersebut.
Keunikan masih berlanjut  pada menu yang ditawarkan. Seperti Teagilla, pelesetan dari teaquilla, ctrl alt del juice perpaduan antara pisang, lemon, dan strawberry, tom yam fried rice, dan andalannya adalah ice red coffe perpaduan antara kopi, susu dan sirup ekstrak rasphberry, fried platter, oxtail fried rice, dan Gajetto fried rice. Tidak perlu mengocek dalam-dalam saku anda, untuk minuman berkisar Rp 10.000,00 – Rp 25.000,00 sementara makanan mulai dari Rp 18.000,00  -  Rp 48.000,00. Gajjeto Geek buka setiap hari pukul 10.00 – 22.00, biasanya akan ramai pengunjung weekend mulai sore hingga malam. Jadi, tertarik untuk datang di akhir pekan ini?

Reporter: Arimbi Puspita Ratri / Fotografer: Arimbi Puspita Ratrihttp://diamma.com/2013/04/05/gajetto-tempat-hang-out-2-in-1/

Larangan Merokok Sebatas Wacana

Diamma.com Peraturan merupakan sebuah norma atau hukum yang mengatur tingkah laku manusia. Kodratnya peraturan dibuat untuk ditaati, tapi pada kenyataannya tidak sedikit yang melanggar. Bagi sebagian orang peraturan justru membatasi diri mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak baik. Dikampus ini masih banyak orang mengabaikan larangan merokok. Padahal sudah jelas tertera tulisan “Dilarang Merokok” disetiap sudut lantai dengan tinta berwarna merah di seluruh kampus UPDM (B).
Seolah tidak peduli dengan peraturan, banyak mahasiswa terang-terangan merokok di depan ruang kelas. Tidak peduli dengan kehadiran dosen lalu lalang dilingkungan kampus. Selain tidak pantas dilihat juga mengganggu kenyamanan kepada perokok pasif. Hal ini dirasakan oleh Dita Miandra Mustika, mahasiswi FISIP jurusan Hubungan Internasional 2011 yang juga sebagai anggota Departemen III jaringan komunikasi HMJHI. “Ganggu banget apalagi asepnya itu. Harus ada sanksi buat yang ngerokok nggak pada tempatnya biar mereka nggak ngerokok sembarangan,” tuturnya.
Tanpa disadari efek bahaya justru lebih mengancam para perokok pasif. Mereka memang tidak secara langsung menghisap rokok tersebut, tetapi sirkulasi asap rokok yang menyebar disekitarnya  jauh lebih membahayakan. Jangka pendeknya seorang perokok pasif dapat mengalami gangguan saluran pernafasan.
Sementara bagi perokok aktif, meskipun  sudah tahu seberapa besar efek yang akan ditimbulkan dalam jangka panjang, seperti paru-paru bahkan kematian namun tidak dihiraukan dengan alasan sudah menjadi kebiasaan. “Karena mungkin udah suatu kebiasaan sebenernya sih udah pengen ngelawan cuma karena udah kebiasaan jadi keterusan,” papar Galih Afriyanto mahasiswa Fikom 2007.
Setidaknya meskipun belum bisa mengurangi kebiasaan merokok yang dirasa memberikan kenikmatan tersendiri mereka seharusnya bisa menempatkan diri untuk tidak  merokok sembarangan.
Ada juga harapan dari mahasiswa perokok pasif “mudah-mudahan mereka nggak senenaknya lagi, tahu diri karena kan di dalam kampus bukan hanya mereka saja,” tutup Dita.  Semoga saja perokok bisa menghargai peraturan yang telah dibuat untuk kebaikan bersama.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri / Foto : Googlehttp://diamma.com/2013/04/05/larangan-merokok-sebatas-wacana/

Absen Panggil Lebih Akurat Jamin Kehadiran Mahasiswa

Diamma.com – Absen merupakan salah satu hal penting bagi mahasiswa. Di setiap fakultas Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama), dosen mematok persentase kehadiran rata-rata 70% – 75% atau kurang lebih 12 kali tatap muka setiap mata kuliah dalam satu semester sebagai syarat mengikuti ujian. Karena ketatnya peraturan ini, maka tidak jarang “mahasiswa nakal” menghalakan segala cara seperti titip absen.
Karena sudah terbiasa, titip absen seolah menjadi budaya mahasiswa. Bukan tanpa alasan perilaku menyimpang ini terjadi, tetapi karena ada kesempatan. Menurut informasi yang didapat mengenai hal terkait, mahasiswa berani menitipkan absen apabila dosen mata kuliah tersebut dikenal apatis atau masa bodoh. Biasanya, dosen seperti ini menerapkan sistem absen tanda tangan bergilir tanpa diperiksa lagi kebenarannya.
Padahal ini akan berpengaruh pada integritas dan kualitas dosen tersebut. Dari sudut pandang beberapa mahasiswa yang kontra terhadap penerapan sistem tanda tangan bergilir, sebaiknya sistem tersebut ditiadakan dan diberlakukan sistem panggil untuk semua dosen. Selain lebih efektif untuk mengenal mahasiswanya juga lebih akurat jamin kehadiran mahasiswa.
“Kalo saya pribadi lebih suka absen panggil. Saya panggil mereka ke depan  sekalian saya absen karena cara itu lebih efektif untuk saya mengenal mereka. Sekalius saya tidak ingin ada absen-absen jin yang istilahnya ada namanya tapi orangnya nggak ada,” tutur Dio Herman, mahasiswa Jurnalistik Fikom 2010 yang juga pengajar Psikologi Komunikasi di UPDM (B).
Renita, mahasiswi FISIP 2009 jurusan Hubungan Internasional juga menambahkan bahwa dengan diberlakukannya sistem absen panggil akan lebih memperketat peraturan sehingga akan mengurangi kebiasaan buruk mahasiswa dan meningkatkan kedisiplinan. Karena sesungguhnya tujuan mahasiswa datang ke kampus bukan sekedar untu absen tetapi mencari ilmu.
Selain memberlakukan sistem absen panggil, para dosen sebaiknya memiliki absen pribadi sebagai bukti atau rekap seperti yang telah dilakukan beberapa dosen.
“Beberapa dosen punya absen pribadi. Mereka minta salinan dari daftar absen ini untuk data pribadi mereka. Jadi ketahuan yang masuk sama yang tidak. Mereka menerapkan absen tanda tangan juga absen panggil,” kata Paulus Sidik Budhiadi selaku dosen Jurnalistik Media Cetak.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Fotografer : Arimbi Puspita Ratri http://diamma.com/2013/04/14/absen-panggil-lebih-akurat-jamin-kehadiran-mahasiswa/

Sunday, 15 July 2012

Artikel


               James "saya pria normal pasti tergoda"

 “Saya pria normal. Pasti tergoda”ungkapnya sambil tertawa ketika ditanya bagaimana menyikapi profesinya sebagai fotografer majalah dewasa (Popular) yang notabene bergelimangan model seksi.
            Melihat mahluk cantik, seksi, dan menggoda sering kali membuat fotografer ternama ini harus menahan emosi dikala mengingat tiga orang putri dan istrinya di rumah. Ini bukan hal yang mudah tapi baginya “jangan kita yang dikuasai model, tapi kita yang menguasainya”
                James Arthur Watulingas(39) pria kelahiran Jakarta 15 Juli ini lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang Fotografer. Kakek buyutnya, Kasian Cephas adalah Fotografer pertama di Indonesia. Beliau merupakan fotografer di Keraton atau di kerajaan – kerajaan. Sampai saat ini karyanya masih terawat di Jogja, Surakarta, dan Belanda.
            Mengawali karir sebagai Fotografer di ProGolf Magz(1997) membuat anak dari pasangan Leopold Everhard Watulingas dan Agatha Geraldine Cephas ini sempat menghentikan pendidikannya di IISIP saat semester VII(1996/1997) karena mengambil kesempatan magang yang membuatnya memutuskan untuk cuti selama 3 tahun.
            James mengaku sudah memegang kamera sejak masih kecil. Namun bakatnya baru terlihat ketika SMA saat bapak dari Kezia Kinza. W, Hanaya Isai. W, dan April Easter. W diminta untuk mendokumentasikan acara perpisahan sekolahnya. Sampai pada akhirnya menjadi professional saat sudah berstatus mahasiswa.
            Untuk menjadi sukses seperti saat ini tentu suami dari Novita Olgah Maryline Tengker ini sudah banyak merasakan asam garamnya dunia kerja dan kehidupan. Bahkan James sempat mengatakan bahwa  awalnya dia merahasiakan profesinya dari Istrinya meskipun akhirnya mengaku dan sang istri mulai menerimanya.
            “Wanita adalah sesuatu yang unik”katanya sambil tersenyum.
            Suksesnya pria yang hobi traveling, olahraga (footshal), dan tertarik pada dunia animasi ini tentu tidak lepas dari peran keluarga. Sempat memiliki kisah pilu ketika sempat terpisah dengan keluarga dan tinggal dipanti asuhan Van Pandesteur, Depok selama 4 tahun membuat James menjadi mandiri hingga seperti sekarang ini.
            Tidak puas dengan memotret model – model cantik, James yang memulai karirnya dengan kamera Nikon FM 2 mencoba peruntungannya disisi Budaya dan Journey.
            Pria yang memiliki prinsip “kenapa harus jadi follower kalau bisa jadi trendsetter” itu memiliki moto”jangan pernah takut melakukan suatu hal kecil untuk hal yang besar”tutupnya.                   

Tantangan Berburu Si Manis dari Palembang


Indonesia adalah negeri kaya cita rasa, itulah salah satu dari puluhan bahkan ratusan opini ketika mendeskripsikan negara Indonesia. Hal inilah yang menjadikan hampir disetiap kota di Indonesia memiliki makanan khas. Salah satunya adalah kota dibagian selatan Sumatera, Palembang. Bukan hanya empek-empeknya yang menggoyang lidah tetapi juga ada martabak india, kue masubah, kue delapan jam, dan lain sebagainya yang menjadikan kota ini sebagai salah satu tempat yang cocok untuk berwisata kuliner.
            Menapaki kota Palembang rasanya tak lengkap bila belum menelusuri sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera dengan panjang 750 km, yang membelah kota ini menjadi dua bagian kawasan, yakni Seberang llir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sambil menyelam minum air, sambil menikmati hamparan air yang luas dengan getek yang membawaku ke pulau Kamaro aku mengulik rasa ingin tahuku tentang kue yang hanya dapat ditemui saat hari – hari besar (perayaan) di kota ini pada pengendara getek.
Berawal dari mencicipi bekal teman saat duduk di sekolah dasar lidahku langsung jatuh cinta pada rasanya yang legit, kue maksuba, lapis legit khas Palembang ini hanya dijual di Palembang dan dihari – hari tertentu saja tapi tak lantas membuat saya patah semangat untuk tetap mencarinya meskipun saat itu bukan hari besar. Sayang rasanya sudah jauh – jauh berkunjung tapi tak mendapatkan keinginan terbesar saya untuk menapaki kaki di tanah Sumatera ini.

Sesuai informasi bapak setengah baya pengendara getek yang lupa saya tanyakan namanya biasanya kue maksuba di jual di toko oleh – oleh tapi lagi – lagi hanya di hari tertentu dan benar saja! Tiga toko sudah disambangi dan hasilnya nihil kalau pun mau harus memesan satu hari sebelumnya padahal besok saya dan keluarga harus kembali ke Jakarta.
            Hampir putus asa tapi akhirnya seorang guide membawa kami ke pasar 16 Ilir yang letaknya tak jauh dari jembatan ampera dan saya menemukannya! Senyum mengembang langsung merubah awan mendung diwajah saya. Dengan harga 110 ribu perloyang kecil saya sudah dapat menikmatinya. Kalau diibaratkan rasanya seperti klapertart.


Rona Merah di TransJakarta


Pagi itu aku memenuhi janji pada seorang teman seperjuangan. Kami sama – sama baru saja melewati hari – hari tegang tahap akhir sebagai seorang murid berseragam putih abu – abu. Paska Ujian Nasional yang dua minggu lalu serempak dilaksanakan oleh seluruh SMA, SMK, dan sederajat di seluruh Indonesia setidaknya membuat aku dan temanku ini menjadi seorang pengacara (pengangguran banyak acara) tapi sebagai cewek yang dalam proses beranjak dewasa kami mulai mengubah pola pikir kami yang kekanak – kanakan, seperti menghamburkan uang untuk keluar masuk bioskop dan bolak – balik ke Sevel sekedar menikmati chiki dengan saus keju atau barberque dan minuman bersoda yang beraneka rasa, untuk itu kami memutuskan untuk mengisi waktu libur panjang kami selama kurang lebih tiga bulan sebelum akhirnya kami berstatus sebagai mahasiswi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.
****
            Setelah semalam suntuk membuat surat lamaran pekerjaan dan daftar riwayat hidup, akhirnya dengan semangat 45 aku bangun tidur lebih awal dari biasanya. Kali ini sebelum ayah dan ibuku mengguncangkan tubuhku untuk segera bergegas bangun dari tempat tidur, aku sudah terlebih dahulu bangun dan siap melangkah ke kamar mandi.
            Semangat juangku ternyata tidak membantu membuat awan hitam yang dari tadi mendominasi langit pagi diatas sana berubah menjadi cerah. Seolah tak mendukung rencanaku. Kicauan burung kali ini juga tak terdengar seperti biasanya.
            Aku duduk sambil bertopang dagu di ruang tamu yang langsung menghadap ke taman. Sesekali melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Baru saja aku mendapatkan kabar bahwa di rumah temanku sudah turun hujan. Terpaksa dia menunda datang ke rumahku secepatnya. Kemarin kami berjanji akan berangkat bersama dari rumahku.
            Sekarang sudah pukul 08.20. Seharusnya dua puluh menit yang lalu kami sudah berada di dalam bis dan sekarang sudah dalam perjalanan, tapi turunnya hujan yang cukup deras sejenak menunda rencana kami. Hingga pukul 09.00 cuaca masih belum bersahabat dan kami memutuskan untuk nekat menerobos hujan dengan berlindung dibawah satu payung kecil milikku.
            Untuk kesekian kalinya aku mengeluh dipagi ini. Tobat, tobat, ada saja rintangannya. Ya hujan, baju basah, sekarang terjebak macet. Yang tadinya perjalanan hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam setengah, gara – gara penyakit lalu lintas Ibu Kota yang sulit diobati ini akhirnya kami tiba setelah menempuh perjalanan dalam waktu dua setengah jam.
            Pukul 11.30 kami menginjak pelataran depan bunderan HI, Sogo. Akhirnya kami keluar juga dari bis yang penuh sesak itu. Dengan wajah yang sudah lusuh dan pakaian yang nyaris kering kami melangkah dengan mantap menuju Grand Indonesia Mall. Meskipun kami tidak lagi fresh dan bentuk rambut yang sudah tidak karu – karuan tapi semangat juang kami patut dibanggakan karena tidak sedikit pun berkurang. 
            Awalnya kami sempat bingung harus masuk dari mana. Kebetulan ada guide tak terduga yang juga pejalan kaki, akhirnya kami ikuti mbak – mbak di depan kami yang sepertinya salah satu pekerja di mall ini dengan mengekor dibelakangnya.
            Mall ini tidak hanya besar tetapi juga mewah. Interior yang dipasang disetiap lantai bahkan sudutnya tampak elegan. Tidak sembarang orang yang berkunjung disini. Lihat saja dari tadi hanya orang berdasi dan berjas yang kutemui disetiap lantai.
            Sempat sedikit minder ditengah keramaian orang – orang kantoran. Apalagi kami hanya anak yang masih berstatus sebagai murid SMK yang datang untuk melamar pekerjaan, bukan untuk bersenang – senang.
            Tapi rasa minder itu seketika sirna ketika kami menyadari bahwa beberapa satpam yang kami lewati memperlakukan kami dengan hormat seperti menundukan kepala dan memberikan salam seperti yang mereka lakukan pada orang – orang kantoran tadi.
            “pagi bu”/”pagi mbak”sapa beberapa satpam. Ibu? oh My God! mungkin saat ini mereka mengaggap kami sebagai orang dari lembaga atau perusahaan, seperti tante – tante dan om – om yang kami temui tadi. Itu karena penampilan kami yang berbeda hari ini dengan busana kantor dan sedikit make up. 
            Perasaan kami campur aduk saat itu, malu, canggung dan senang karena disejajarkan dengan orang kantoran. Siapa yang tidak senang diperlakukan hormat seperti tadi? rasanya itu adalah sebuah pertanyaan retorik yang sudah pasti jawabannya tidak ada. Mungkin kalau kami datang dengan pakaian sehari – hari kami yang terkesan cuek aku yakin tidak akan ada satpam yang menundukan kepalanya dan mengucapkan salam ketika kami lewat, mungkin mereka hanya akan menganggap kami sebagai bocah ingusan yang sedang ingin cuci mata.
            “Ra, dihitung – hitung sudah berapa kali kita disapa dengan sebutan ibu? canggung aku jadinya. Apa wajah kita mirip ibu – ibu?”gerutu Nia sedikit berbisik.
            Aku terkekeh. “Mungkin lebih dari lima kali Ni. Bayangkan saja sudah lima lantai kita lewati sebanyak dua satpam di setiap lantai yang kita temui, semuanya hampir menyapa kita dengan sebutan ibu. Aku rasa bukan wajah kita, tapi penampilan kita. Sudahlah nikmati saja”
            “Nikmati sih nikmati tapi lama – lama bisa kering juga gigiku ini kalau harus terus senyum”
            “Salahmu sendiri kenapa nyengir, kita hanya perlu senyum bukan cengiran yang memamerkan deretan gigimu yang dipagari itu”
            “Kamu ini Ra bisa saja”dengan gemas Nia mencubit lenganku.
            Aku hanya terkekeh. Jalan dengan sahabatku yang satu ini ternyata cukup menghibur. Cukup lama kami tidak bertemu karena sejak SMK kami memang beda sekolah, tapi ketika bertemu lagi satu minggu yang lalu saat reuni SMP tidak ada yang berubah yang membuat kami jadi canggung. Masing – masing dari kami masih suka dan senang diajak bercanda, mengobrol, dan bertukar cerita. Hingga akhirnya waktu tidak terasa. Tiba – tiba kami sudah tiba dilantai tujuh. Tinggal satu lantai lagi kami sampai.
            Tapi .. .. Jreng! Jreng! Dimana lantai selanjutnya? Tidak ada eskalator menuju lantai selanjutnya dan saat ini kenapa kami bisa berada di parkiran! Loh?! Menurut informasi yang aku dapat, Blitz Megaplex berada dilantai delapan. Itu berarti seharusnya setelah lantai ini masih ada lantai lagi.
            “Ra, kayaknya kita salah jalan deh”tukas Nia sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling. Dari kaca, hanya terlihat puluhan bahkan ratusan mobil yang berderet begitu pula dilantai enam dan lima yang dapat dilihat dari sini.
            “Aduh Ni, malu aku turunnya. Mau ditaro dimana muka kita. Kita PD banget sih main naik aja bukannya tanya dulu”
            “Sama aku juga. Tapi kalo nggak turun memangnya kamu mau terus – terusan disini?”
            “Ya seenggaknya sampai satpam – satpam yang kita lewati tadi udah berjaga dilain tempat”
            “Permisi Ibu, ada yang bisa saya bantu?”tanya satpam yang sedang berjaga dilantai ini. Mungkin kegelisahan kami terlihat mencurigakan hingga membuat satpam yang tadinya sedang duduk disudut sana tiba – tiba datang menghampiri kami.
            Aku dan Nia menyeringai. “Ini pak, kita mau ke Blitz Megaplex tapi kok kayaknya salah jalan ya. Bapak tau Blitz Megaplex dimana?”Aduhhh bodohnya aku. Ya bapak ini pasti taulah secara dia satpam disini. Harusnya aku tanya begini “Blitz Megaplex dimana ya pak?”
            Bapak bernama Agus Salim, yang namanya ku ketahui lewat seragamnya itu tersenyum dengan ramah. “Oh mau nonton ya bu. Kalau begitu dari sini ibu turun belok kanan, kemudian lurus terus. Nanti disana ada eskalator ibu naik saja sampai lantai delapan”
            “Turun, belok kanan, lurus terus, ada eskalator naik sampai lantai delapan”ulangku sambil memainkan gerak tangan.
            “Iya betul”kata satpam itu.
            “Terima kasih ya pak”kataku dan Nia nyaris berbarengan.
            Akhirnya kami turun dengan membawa sedikit malu. Kami mengikuti instruksi bapak bernama Agus Salim itu, setelah turun, belok kanan, dan lurus terus. Astaga ternyata disetiap lantai ada lebih dari satu eskalator. Dan setiap eskalator menghubungkan ke lantai yang berbeda. Pantas saja kami keliru. Kalau begitu siapa yang salah? Kami yang tidak mau bertanya sebelumnya atau mallnya karena memiliki eskalator lebih dari satu disetiap lantai yang akhirnya membuat kami sebagai pengunjung jadi kebingungan.
            Sepanjang jalan menuju Blitz Megaplex kami menertawai kebodohan kami sampai akhirnya kami tiba di Blitz Megaplex. Dan .. .. Waw! Untuk pertama kalinya aku melihat bioskop sebesar ini. Ini bahkan tidak terlihat seperti bioskop tepatnya aula. Ada lahan kosong sebelum memasuki bagian pembelian tiket. Disitu ada Tempat duduk yang melingkar, pusat informasi yang akan kami tuju, dan lagi – lagi eskalator!
            Sejenak kami tinggalkan kekaguman kami pada bioskop sangat besar ini dan sudah pasti harga tiketnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan bioskop – bioskop lain. Kami menuju pusat informasi untuk menanyakan kebenaran info lowongan kerja yang aku dapat.
            “Iya mbak benar”satpam bernama Danu yang lagi – lagi ku ketahui namanya lewat seragamnya itu membenarkan klarifikasiku. Saat ini memang benar bioskop ini sedang membutuhkan banyak SDM untuk mengisi berbagai macam posisi.
            Tanpa bertele – tele aku dan Nia mengeluarkan amplop cokelat berisi surat lamaran dan berkas – berkas pendukung lainnya kemudian menyerahkannya pada pak Danu. Kami diminta untuk menuliskan nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi dibuku ekspedisi.
****
            Menjelang jam makan siang aku dan Nia bermaksud untuk pulang dan mampir ke blok M untuk mengisi perut yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Mahluk – mahluk kecil di dalam perut kamu sudah berdendang sejak beberapa menit yang lalu.
            Kata Nia kalau jam makan siang seperti ini Jalanan pasti macet. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil jalan pintas, dengan menaiki transportasi yang bebas dari kemacetan lalu lintas karena memiliki jalur khusus, yaitu TransJakarta atau yang akrab disebut busway.
            Ini pertama kalinya aku naik busway. Agak ribet mungkin karena aku belum terbiasa, dari sogo kita harus menaiki jembatan penyebrangan untuk sampai di halte busway terdekat. Dan jembatannya cukup panjang, cukup menguras tenagaku yang sudah mulai habis karena kelaparan dan kepanasan.
            Setelah membeli Karcis seharga Rp 3500/orang, kami masih harus menunggu kedatangan transportasi kebanggaan Jakarta. Saat ini tidak banyak orang yang sedang menunggu, mungkin hanya sekitar sepuluh orang termasuk aku dan Nia. Kebanyakan Busway datang untuk ke arah kota sedangkan untuk arah sebaliknya dari sepuluh menit kami menunggu hanya ada satu itu pun penuh. Lima belas menit, dua puluh menit, berapa kali sudah aku menguap, bosen menunggu busway yang tak kunjung datang.
            “Ni, nanti biarpun rame kita naik aja deh. Udah laper banget nih, nggak tahan perut udah keroncongan”kataku.
            “Iyaaa. Tadi kan udah aku paksa naik, tapi kamunya nggak mau”
            “Iya deh nanti nggak nolak lagi”
            Dan .. yang kami tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Dari yang sebelumnya tidak ada perubahan yang signifikan tetap saja rame. Mau tidak mau demi perut aku dan Nia serta beberapa orang akhirnya naik.
            Benar saja kami tidak kebagian tempat duduk dan terpaksa harus berdiri ditengah – tengah padatnya penumpang. Bahkan untuk berdiripun hanya ada sedikit celah. Oh my God! sabar, sabar. Belum sampe sepuluh menit perjalanan aku sudah berkali – kali mengganti gaya berdiri. Pertama aku menggegam erat tangan Nia sambil menggenggam besi di dekat pintu. Gaya kedua telapak tanganku menemplok dipergelangan tangan orang dan terlepas dari genggaman tangan Nia karena seseorang berbadan tambun tidak sengaja terdorong karena pengemudi ngerem mendadak dan akhirnya aku dan Nia terpisah. Sekarang Nia entah dimana, badanya tertutup orang – orang disekelilingku. Gaya ketiga, atau yang sekarang cukup membuatku berada dalam posisi wena (PW) kedua tangan menggenggam pegangan khusus yang tertempel dilangit – langit busway.
            Kami sudah melewati dua halte menuju halte pemberhetian terakhir, yaitu di Blok M. Selama itu pula aku merasa cukup nyaman hingga aku ketahui ternyata saat ini Nia sedang duduk berada tak jau dariku. Sementara aku tetap berdiri bergelantungan dengan keringat yang dengan lancar meluncur dari kepala turun kewajahku. Ac busway tidak lagi terasa semakin banyaknya penumpang yang naik dari halte ke halte.
            Cittt .. lagi – lagi pengemudi busway ngerem mendadak. Dan aku?! terlepas dari pegangan setelah sebelumnya sempat berputar ditempat terpelintir oleh gerakan sendiri sampai akhirnya jatuh pada pangkuan seseorang yang sudah pasti tidak aku kenali. Aku lepas kendali. Oh my God! Seandainya wajah ini dapat dicopot untuk sementara dan muat ku masukan dalam kantong pasti sudah aku lakukan tapi sayang mustahil. Mau dikata apa? Aku sudah malu dan jadi pusat perhatian orang satu busway. Tidak sedikit orang yang menertawaiku. Ada yang menahan tawa bahkan ada yang terang – terangan tertawa seperti Nia. Dia tidak bisa menahan tawanya, hingga tawanya pecah dan diikuti beberapa orang tak berperasaan lainnya.
            “Aduh mas maaf ya mas”kataku tidak enak lalu segera bangun dan meraih pegangan yang tadi sempat terlepas dari genggamanku.
            Tidak terbayang seperti apa merahnya pipiku saat ini yang jelas terasa panas dan aliran darah seolah menjalar dan berkumpul diwajah. Aku benar – benar malu dan merasa dipermalukan. Huaaaaa mamaaaaa aku malu!
            Mas itu hanya mengangguk dengan senyum sedikit dipaksakan. Dia pasti gondok padaku. Karena sebelum akhirnya aku menibannya dengan kasar aku sempat menginjak kakinya dengan high heelsku. Aku benar – benar merasa bersalah.
            Untungnya mas ini tidak minta ganti rugi apa – apa atas kakinya yang sudah pasti sakit karena ku injak tadi atau paling tidak marah – marah, tapi justru karena kebaikannya itu yang bikin aku jadi semakin merasa bersalah.
            Tidak lama setelah itu mas berkemeja putih dan bermata sipit yang mungkin menganggap hari ini adalah hari sialnya karena ketidak sengajaanku tadi, berdiri dan memintaku duduk ditempatnya dengan alasan dia akan segera turun.
            “Silahkan duduk mbak, saya mau turun sebentar lagi. Daripada nanti ada korban lagi kayak saya”katanya lembut tapi nguenaaa banget. Maksudnya apa???