Sunday, 15 July 2012

Tantangan Berburu Si Manis dari Palembang


Indonesia adalah negeri kaya cita rasa, itulah salah satu dari puluhan bahkan ratusan opini ketika mendeskripsikan negara Indonesia. Hal inilah yang menjadikan hampir disetiap kota di Indonesia memiliki makanan khas. Salah satunya adalah kota dibagian selatan Sumatera, Palembang. Bukan hanya empek-empeknya yang menggoyang lidah tetapi juga ada martabak india, kue masubah, kue delapan jam, dan lain sebagainya yang menjadikan kota ini sebagai salah satu tempat yang cocok untuk berwisata kuliner.
            Menapaki kota Palembang rasanya tak lengkap bila belum menelusuri sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera dengan panjang 750 km, yang membelah kota ini menjadi dua bagian kawasan, yakni Seberang llir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sambil menyelam minum air, sambil menikmati hamparan air yang luas dengan getek yang membawaku ke pulau Kamaro aku mengulik rasa ingin tahuku tentang kue yang hanya dapat ditemui saat hari – hari besar (perayaan) di kota ini pada pengendara getek.
Berawal dari mencicipi bekal teman saat duduk di sekolah dasar lidahku langsung jatuh cinta pada rasanya yang legit, kue maksuba, lapis legit khas Palembang ini hanya dijual di Palembang dan dihari – hari tertentu saja tapi tak lantas membuat saya patah semangat untuk tetap mencarinya meskipun saat itu bukan hari besar. Sayang rasanya sudah jauh – jauh berkunjung tapi tak mendapatkan keinginan terbesar saya untuk menapaki kaki di tanah Sumatera ini.

Sesuai informasi bapak setengah baya pengendara getek yang lupa saya tanyakan namanya biasanya kue maksuba di jual di toko oleh – oleh tapi lagi – lagi hanya di hari tertentu dan benar saja! Tiga toko sudah disambangi dan hasilnya nihil kalau pun mau harus memesan satu hari sebelumnya padahal besok saya dan keluarga harus kembali ke Jakarta.
            Hampir putus asa tapi akhirnya seorang guide membawa kami ke pasar 16 Ilir yang letaknya tak jauh dari jembatan ampera dan saya menemukannya! Senyum mengembang langsung merubah awan mendung diwajah saya. Dengan harga 110 ribu perloyang kecil saya sudah dapat menikmatinya. Kalau diibaratkan rasanya seperti klapertart.


No comments:

Post a Comment