Tuesday, 16 July 2013

Kementrian Agama tentukan Awal Bulan Ramadhan

Diamma.com – Awal ramadhan resmi ditetapkan pada Rabu 10 Juli 2013 sebagaimana yang telah disepakati dalam sidang Itsbat pada Senin (08/07/2013) di Departemen Agama. Sidang tersebut dihadiri oleh Ketua komisi VIII DPR RI, Pimpinan Ormas dan instansi terkait, undangan, dan Duta Besar negara-negara sahabat. Sidang ini memaparkan posisi pemerintah dalam konteks penyelenggaraan sidang Itsbat untuk menentukan awal Ramadhan. Dalam hal ini, pemerintah adalah pihak yang berhak membuat keputusan. Dalam paparan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa secara astronomi posisi hilal sudah jelas, yang menjadi persoalan adalah kriteria yang digunakan dalam menentukan awal ramadhan.
Berdasarkan Fatwa MUI No. 2 tahun 2004 penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI dan berlaku secara Nasional. Dan hal ini telah dilakukan di setiap provinsi di Indonesia. Dari hasil laporan 36 orang di 33 provinsi di Indonesia menyatakan bahwa hilal belum terlihat sampai pada saat sidang berlangsung.
“Dari NASSA tinggi hilal adalah 0,39 derajat di Jakarta dan menurut pakar astronomi itu impossible. Sehingga kami menetatpkan awal bulan Ramadhan adalah hari Rabu,” ungkap Al Irsyad Islamiah, satu dari dua belas penanggap. Pihak Al Irsyad Islamiah juga mengungkapkan bahwa meskipun ada perbedaan penilaian, dihimbau bagi ormas lain untuk melihat pada persatuan umat islam yang lebih penting.
Wakil Ketua Umum bidang eksternal Ormas Islam yang turut setuju pada penetuan awal bulan Ramadhan menambahkan bahwa persoalan hanya pada kriteria dan membutuhkan komunikasi yang intensif agar dapat mendapatkan keputusan yang baik.
Sepuluh penanggap lainnya yakni Lembaga Persahabatan Umat Islam, Pengurus besar Nahdatul Ulama, Sarekat Islam, Dewan Dakwah Islam, Sekretaris Majelis Ulama PUI, Robitoh Alawiyah, pengurus besar Alwasliyah, dan Ketua Umum Wahdah Islamiyah memiliki penilaian penetapan awal bulan Ramadhan yang sama, sehingga Kementrian Agama sah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 10 Juli 2013.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Fotografer : Achmad Rafiqhttp://diamma.com/?p=12324

Senat FISIP Sukses Gelar Seminar Nasional

Diamma.com –Senat Mahasiswa FISIP UPDM(B) adakan Seminar Nasional bertema “Menilai Kebijakan Pembangunan Nasional Era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono”, Rabu (08/05/2013). Meski tanpa kehadiran Rizal Ramli seperti yang telah dipublikasikan sebelumnya, seminar ini tetap berlangsung dengan sukses.
Acara yang berlangsung di auditorium FISIP tersebut dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III FISIP UPDM(B), dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para pembicara. Budiman Sudjatmiko, anggota DPR RI yang juga salah satu pembicara dalam seminar, dalam pidatonya berharap agar melalui seminar ini mahasiswa sebagai agen perubahan dapat mengambil sikap yang tepat dalam segala hal.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam membangun mahasiswa untuk lebih berpartisipasi dalam perubahan pembangunan nasional. Antusiasme mahasiswa pun terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang dilontarkan kepada pembicara pada sesi diskusi.
Lifedoory, mahasiswi FISIP Hubungan Internasional mengatakan bahwa, banyak hal yang dapat diambil dalam seminar kali ini. “Bukan hanya dapat menambah wawasan tentang bentuk pemerintahan Indonesia, tapi juga membentuk sikap dan karakter mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa,” tanggap mahasiswi yang juga aktif saat sesi diskusi dalam seminar.

Reporter: Arimbi Puspita Ratri / Foto: Dok. Panitia Seminahttp://diamma.com/2013/05/09/senat-fisip-sukses-gelar-seminar-nasional/

Agung: Mahasiswa Harus Tahu Hak dan Kewajiban

Diamma.com –Menjelang Ujian Tengah Semester tidak sedikit mahasiswa UPDM (B) yang belum melengkapi persyaratan seperti melunasi biaya perkuliahan. Padahal, pihak kampus telah memiliki Kalender Akademik yang dibuat untuk mahasiswa dan dosen sebagai perencanaan yang sudah terprogram. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki kesiapan dalam berbagai hal seperti finansial dan akademis. Tetapi, pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang acuh terhadap perencanaan yang terlah dibuat. Hal ini dibuktikan dengan kesibukan mahasiswa dalam mengurusi surat dispensasi pada H-3 Ujian Tengah semester.
“Ini (kalender akademik) setahun yang lalu sudah dibikin, mahasiswa seharusnya sudah tahu jadwal UTS kapan, UAS kapan, bayaran kapan,” tutur Agung Setiyo Hadhi, Wadek III bidang kemahasiswaan Fakultas Ekonomi. Agung menambahkan bahwa mahasiswa harus tahu hak dan kewajibannya sebagai seorang pelajar Perguran Tinggi, jangan hanya bisa menuntut.
Meskipun peraturan yang telah dibuat pihak UPDM (B) fleksibel atau tidak kaku, mahasiswa harus tetap menjalankan sesuai prosedur.
“Peraturan kita tidak kaku, tetapi mahasiswa juga harus merencanakan menejemen yang baik. bahwa untuk pembayaran itu sudah harus disiapkan karena waktunya satu semester,” kata Paiman Rahardjo, Wadek III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Mengingat tunggakan biaya sering kali terjadi, mahasiswa diminta untuk mengambil SKS sesuai dengan kesanggupan finansial masing-masing, jangan karena mengejar target lulus dengan waktu yang singkat kemudian mengambil SKS dengan jumlah yang banyak tanpa dipikirkan secara matang karena nantinya justru akan menyulitkan.
Pihak kampus sendiri tidak ingin membebankan, untuk itu mahasiswa masih diberikan toleransi pembayaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan membuat surat pernyataan ketidakmampuan membayar dengan alasan yang jelas. Toleransi tersebut diberlakukan untuk UTS, namun saat UAS mahasiswa harus sudah melunasi tunggakan sebab laporan keuangan harus segera diserahkan mengingat akan menjelang tahun ajaran baru.
“Kalau di UTS ini masih ada toleransi tetapi pada saat nanti UAS itu kan keuangan harus masuk setor kemudian laporan, ada tahun ajaran baru juga, mau nggak mau harus lunas”papar paiman.
Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Foto : Dok. Google.comhttp://diamma.com/2013/04/25/agung-mahasiswa-harus-tahu-hak-dan-kewajiban/

Mahasiswa FIKOM Akui Sulit Mengurus Surat Dispensasi

Diamma.com –Jumat (19/04/2013) lalu merupakan hari terakhir pengurusan surat dispensasi bagi mahasiswa FIKOM dan FE UPDM (B) yang belum melunasi biaya perkuliahan semester genap 2012/2013. Surat dispensasi tersebut berupa perjanjian di atas materai mengenai kesanggupan mahasiswa dalam membayar tunggakan pada batas waktu yang telah disepakati. Hal ini dilakukan demi mendapatkan izin mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) yang dilaksanakan pada Senin, 22 April 2013. Namun, syarat pengurusan surat dispensasi kali ini dirasakan sulit oleh beberapa mahasiswa FIKOM, pasalnya mereka harus membayar paling tidak setengah dari beban tunggakan.
“Merasa sangat dipersulit karna persyaratannya harus membayar setengah dari kekurangan untuk minimal pembayaran. Tahun sebelumnya nggak terlalu sulit ya kalo menurut gue, masih bisa didispen meskipun nunggak dua juta ke atas. Tapi kalo sekarang satu juta ke atas udah susah,” ujar Mizan Muhammad Andal, mahasiswa FIKOM 2010.
Selain itu menurut Avissa Harnes, Mahasiswi FIKOM semester empat, untuk memproses surat dispensasi membutuhkan kesabaran yang ekstra dan waktu yang cukup lama. Hal ini dikarenakan Harti Yuwarti, selaku Wakil Dekan II yang menangani bagian keuangan terkadang sulit untuk ditemui. “Harus bolak-balik mengurus dokumen yang harus difotokopi, belum lagi terkadang ditahan dulu beberapa saat untuk memberikan keterangan alasan yang jelas,” keluh Avissa.
Terkait dengan hal ini, syarat UTS kali ini juga berbeda dengan sebelumnya. Tahun kemarin, untuk mahasiswa yang belum dapat melunasi biaya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian tanpa harus membuat surat dispensasi dan diberikan toleransi untuk melunasi tanggungan tersebut setelah UTS.
“UTS yang kemarin itu walaupun bayarnya belum lunas bisa langsung ambil kartu aja disini nggak usah pake surat dispen kecuali UAS tapi sekarang kenapa nggak bias?” lanjut Avissa.
Avissa juga menambahkan, sebaiknya kalau hanya masih UTS tidak perlu membuat surat dispensasi, meskipun memiliki tunggakan, kecuali pada saat Ujian Akhir Semester tidak ada toleransi lagi bagi yang belum membayar.
Terakhir, Mizan berharap, “jangan dipersulitlah. Kita kan pengen kuliah, juga sama-sama butuh,” tutupnya.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/foto : dok. Goggle.comhttp://diamma.com/2013/04/25/mahasiswa-fikom-akui-sulit-mengurus-surat-dispensasi/

Gajetto, Tempat Hang Out 2 in 1

Diamma.com – Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pribahasa ini cocok untuk mewakili sebuah cafe dan store dibilangan Kemang Selatan VIII No 67 H-1, Jakarta. Two in one, tidak hanya lidah yang  akan dimanjakan di sana tetapi juga mata. Sambil mengisi energi dengan menu yang dapat menggoyang lidah, kita dapat mencuci mata dengan koleksi gadget dan aksesorisnya yang ditawarkan. Mulai dari tele kamera, handphone, flashdisk unik, toys figure, casing iPhone, dan masih banyak lagi. Gajetto Geek Cafe Store, sebuah inovasi tempat hang out yang strategis dan ekonomis, yang diciptakan untuk para pecandu gadget. Sesuai dengan makna dari nama kafe ini, kata geek berasal dari bahasa Inggris yang artinya aneh atau pecandu, sementara gajetto diambil dari bahasa Jepang yang merupakan serapan dari kata gadget. Tapi, geek di sini bukan berarti aneh, melainkan fanatik atau antusias pada teknologi, seperti para pemilik dari cafe&store ini.
Adalah Adit yang merupakan seorang graphic designer, dan Dion seorang young entrepreneur yang merupakan pemilik dari Gajetto Geek Cafe Store. Berdasarkan keterangan mereka, rata-rata barang yang ada di kafe ini diimpor dari Hong Kong, Cina, dan Amerika khusus untuk aksesoris Apple.
“Kalau mereka memang geek, belum klop kalau belum datang ke Gajetto Geek,” ujar Sadra, salah seorang store crew.
Meskipun baru resmi dibuka November 2012, cafe and store yang memiliki konsep industrial, game, dan ramah lingkungan ini telah menarik perhatian khalayak ramai. Mulai dari tatakan gelas yang dibuat dari disket, kursi yang menggunakan krat soft drink, wastafel berupa CPU, pajangan dari kran air, serta toots keyboard dan kaset tempo dulu yang disusun diapik di dalam meja kaca turut menjadi daya tarik tersendiri. Retno, salah satu pengunjung, merasa tertarik dengan desain interior kafe yang terlihat unik, menarik, dan sarat akan unsur recycle tersebut.
Keunikan masih berlanjut  pada menu yang ditawarkan. Seperti Teagilla, pelesetan dari teaquilla, ctrl alt del juice perpaduan antara pisang, lemon, dan strawberry, tom yam fried rice, dan andalannya adalah ice red coffe perpaduan antara kopi, susu dan sirup ekstrak rasphberry, fried platter, oxtail fried rice, dan Gajetto fried rice. Tidak perlu mengocek dalam-dalam saku anda, untuk minuman berkisar Rp 10.000,00 – Rp 25.000,00 sementara makanan mulai dari Rp 18.000,00  -  Rp 48.000,00. Gajjeto Geek buka setiap hari pukul 10.00 – 22.00, biasanya akan ramai pengunjung weekend mulai sore hingga malam. Jadi, tertarik untuk datang di akhir pekan ini?

Reporter: Arimbi Puspita Ratri / Fotografer: Arimbi Puspita Ratrihttp://diamma.com/2013/04/05/gajetto-tempat-hang-out-2-in-1/

Larangan Merokok Sebatas Wacana

Diamma.com Peraturan merupakan sebuah norma atau hukum yang mengatur tingkah laku manusia. Kodratnya peraturan dibuat untuk ditaati, tapi pada kenyataannya tidak sedikit yang melanggar. Bagi sebagian orang peraturan justru membatasi diri mereka untuk berbuat sesuatu yang tidak baik. Dikampus ini masih banyak orang mengabaikan larangan merokok. Padahal sudah jelas tertera tulisan “Dilarang Merokok” disetiap sudut lantai dengan tinta berwarna merah di seluruh kampus UPDM (B).
Seolah tidak peduli dengan peraturan, banyak mahasiswa terang-terangan merokok di depan ruang kelas. Tidak peduli dengan kehadiran dosen lalu lalang dilingkungan kampus. Selain tidak pantas dilihat juga mengganggu kenyamanan kepada perokok pasif. Hal ini dirasakan oleh Dita Miandra Mustika, mahasiswi FISIP jurusan Hubungan Internasional 2011 yang juga sebagai anggota Departemen III jaringan komunikasi HMJHI. “Ganggu banget apalagi asepnya itu. Harus ada sanksi buat yang ngerokok nggak pada tempatnya biar mereka nggak ngerokok sembarangan,” tuturnya.
Tanpa disadari efek bahaya justru lebih mengancam para perokok pasif. Mereka memang tidak secara langsung menghisap rokok tersebut, tetapi sirkulasi asap rokok yang menyebar disekitarnya  jauh lebih membahayakan. Jangka pendeknya seorang perokok pasif dapat mengalami gangguan saluran pernafasan.
Sementara bagi perokok aktif, meskipun  sudah tahu seberapa besar efek yang akan ditimbulkan dalam jangka panjang, seperti paru-paru bahkan kematian namun tidak dihiraukan dengan alasan sudah menjadi kebiasaan. “Karena mungkin udah suatu kebiasaan sebenernya sih udah pengen ngelawan cuma karena udah kebiasaan jadi keterusan,” papar Galih Afriyanto mahasiswa Fikom 2007.
Setidaknya meskipun belum bisa mengurangi kebiasaan merokok yang dirasa memberikan kenikmatan tersendiri mereka seharusnya bisa menempatkan diri untuk tidak  merokok sembarangan.
Ada juga harapan dari mahasiswa perokok pasif “mudah-mudahan mereka nggak senenaknya lagi, tahu diri karena kan di dalam kampus bukan hanya mereka saja,” tutup Dita.  Semoga saja perokok bisa menghargai peraturan yang telah dibuat untuk kebaikan bersama.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri / Foto : Googlehttp://diamma.com/2013/04/05/larangan-merokok-sebatas-wacana/

Absen Panggil Lebih Akurat Jamin Kehadiran Mahasiswa

Diamma.com – Absen merupakan salah satu hal penting bagi mahasiswa. Di setiap fakultas Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama), dosen mematok persentase kehadiran rata-rata 70% – 75% atau kurang lebih 12 kali tatap muka setiap mata kuliah dalam satu semester sebagai syarat mengikuti ujian. Karena ketatnya peraturan ini, maka tidak jarang “mahasiswa nakal” menghalakan segala cara seperti titip absen.
Karena sudah terbiasa, titip absen seolah menjadi budaya mahasiswa. Bukan tanpa alasan perilaku menyimpang ini terjadi, tetapi karena ada kesempatan. Menurut informasi yang didapat mengenai hal terkait, mahasiswa berani menitipkan absen apabila dosen mata kuliah tersebut dikenal apatis atau masa bodoh. Biasanya, dosen seperti ini menerapkan sistem absen tanda tangan bergilir tanpa diperiksa lagi kebenarannya.
Padahal ini akan berpengaruh pada integritas dan kualitas dosen tersebut. Dari sudut pandang beberapa mahasiswa yang kontra terhadap penerapan sistem tanda tangan bergilir, sebaiknya sistem tersebut ditiadakan dan diberlakukan sistem panggil untuk semua dosen. Selain lebih efektif untuk mengenal mahasiswanya juga lebih akurat jamin kehadiran mahasiswa.
“Kalo saya pribadi lebih suka absen panggil. Saya panggil mereka ke depan  sekalian saya absen karena cara itu lebih efektif untuk saya mengenal mereka. Sekalius saya tidak ingin ada absen-absen jin yang istilahnya ada namanya tapi orangnya nggak ada,” tutur Dio Herman, mahasiswa Jurnalistik Fikom 2010 yang juga pengajar Psikologi Komunikasi di UPDM (B).
Renita, mahasiswi FISIP 2009 jurusan Hubungan Internasional juga menambahkan bahwa dengan diberlakukannya sistem absen panggil akan lebih memperketat peraturan sehingga akan mengurangi kebiasaan buruk mahasiswa dan meningkatkan kedisiplinan. Karena sesungguhnya tujuan mahasiswa datang ke kampus bukan sekedar untu absen tetapi mencari ilmu.
Selain memberlakukan sistem absen panggil, para dosen sebaiknya memiliki absen pribadi sebagai bukti atau rekap seperti yang telah dilakukan beberapa dosen.
“Beberapa dosen punya absen pribadi. Mereka minta salinan dari daftar absen ini untuk data pribadi mereka. Jadi ketahuan yang masuk sama yang tidak. Mereka menerapkan absen tanda tangan juga absen panggil,” kata Paulus Sidik Budhiadi selaku dosen Jurnalistik Media Cetak.

Reporter : Arimbi Puspita Ratri/Fotografer : Arimbi Puspita Ratri http://diamma.com/2013/04/14/absen-panggil-lebih-akurat-jamin-kehadiran-mahasiswa/