Saturday, 25 April 2015

Potensi Bhutan Dalam Mengembangkan Asia Selatan



Tidak banyak yang tahu bahwa Bhutan adalah sebuah negara. Minimnya pemberitaan mengenai negara kecil di kawasan Asia Selatan ini membuat negara yang dihimpit oleh India dan Republik Rakyat Thiongkok asing ditelinga. Padahal Bhutan merupakan negara yang cukup menarik, hal ini dibuktikan dengan keberhasilan negara yang sempat penganut sistem monarki absolut (kini demokrasi) ini dalam menginspirasi negara-negara maju seperti Amerika serikat dan Jepang melalui prinsip dari mantan Raja Bhutan, Jigme Singye Wangchuck IV yang disebut dengan teori Model Bhutan yang berarti mementingkan perkembangan yang seimbang antara materi dan spiritual, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan proteksi terhadap kebudayaan tradisional diletakkan di atas perkembangan ekonomi[1]. Sehingga melalui ketetapan standar Gross National Happiness (GNH), Bhutan didaulat sebagai negara paling bahagia di dunia.

Sebagai negara berkembang, ekonomi Bhutan berasal dari industri rakyatnya seperti kerajinan tangan dan produksi seni keagamaan untuk altar rumah. Hampir sebagian besar penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian, peternakan, dan pengrajin tangan yang sebenarnya bisa diekspor ke negara lain. Namun karena pembangunan jalan dan infrastruktur yang mahal sehingga tidak ada akses untuk dilalui khususnya laut, ini menyebabkan Bhutan tidak dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan pedagangan internasional.

Menyambung pemaparan diatas bahwa Bhutan, tidak seperti negara lain yang berada di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Sri lanka yang sering menjadi sorotan perihal konflik, kerjasama ekonomi, untuk itu penulis tertarik untuk mengangkat tema penulisan mengenai negara terkecil di kawasan Asia Selatan ini. Bagaimana dengan posisinya sebagai negara kecil yang tergabung dalam keanggotaan South Asian Association For Regional Cooperation (SAARC) berkontribusi dalam mengembangkan Asia Selatan.

Sebagai negara yang berada dikawasan Asia Selatan, praktis Bhutan tergabung dalam South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) yang merupakan asosiasi kerjasama regional Asia Selatan yang terdiri dari 8 negara di Asia Selatan seperti, Afganistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka yang bertujuan untuk mencapai integerasi ekonomi regional. Proses Integerasi tersebut dibuktikan melalui SAFTA (South Asia Free Trade Area) atau zona perdagangan bebas Asia Selatan. Salah satu kebijakan program kerjanya adalah mengurangi bea atau hambatan tarif guna meningkatkan perdagangan dan kerjasama ekonomi antara negara-negara SAARC serta memberikan preferensi khusus bagi negara-negara terbelakang antara negara-negara Asia Selatan.[2]

Awalnya organisasi  ini didirikan oleh 7 negara yakni  India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Maladewa, Bhutan pada Desember 1985. Kemudian Afghanistan bergabung pada April 2007, saat KTT SAARC ke 14, ini merupakan organisasi regional terbesar dimana memiliki jumlah penduduk sebanyak 1,5 miliar orang. Seperlima dari penduduk dunia.

Terbentuknya SAARC dilatarbelakangi oleh konflik-konflik yang terjadi di kawasan Asia Selatan, diantaranya seperti, konflik India dengan Pakistan, pemisahan Pakistan dari India, pecahnya Pakistan Timur menjadi Bangladesh, dan banyaknya militan pendukung terorisme disetiap negara-negara tersebut yang sering kali mengakibatkan hilangnya nyawa penduduk sipil dan memperburuk keadaan ekonomi dari negara-negara tersebut.

Melalui SAARC, Bhutan dan negara-negara anggota lainnya bekerjasama melalui sebelas bidang yang telah disepakati bersama, diantaranya adalah pertanian, pendidikan, budaya dan olahraga, kesehatan, populasi, dan kesejahteraan anak, lingkungan dan meteorologi, pembangunan pedesaaan, pariwisata, transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, komunikasi
Masing-masing negara anggota SAARC memiliki tugas untuk mempromosikan kerjasama regional, tidak terkecuali Bhutan. Bhutan menjadi pusat regional dalam bidang SAARC Development Fund dan SAARC foresty center.

 SAARC development fund merupakan dana pembangunan Asia Selatan yang tujuannya adalah untuk mendukung pembangunan industri, pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, pengembangan sumber daya kelembagaan / manusia dan promosi proyek pembangunan sosial dan infrastruktur di wilayah SAARC.[3] SADF dimulai dengan basis sumber daya dari US $ 5 juta (kontribusi secara pro-rata oleh negara-negara anggota SAARC), dan sampai penutupan pada bulan Juni 2008, memiliki dana sebesar kira-kira. US $ 7,0 juta. Hingga penutupan, SADF menyelesaikan studi kelayakan tekno-ekonomi selama enam belas studi proyek.

Sementara SAARC foresty center merupakan pusat kehutanan SAARC yang dibangun dengan dilatarbelakangi oleh keperihatinan negara-negara anggota SAARC terhadap kehancuran hutan dan bencana alam akibat degradasi lingkungan yang terus menerus. Bhutan dipilih sebagai pusat kehutanan SAARC karena memiliki keunggulan dibidang lingkungan. [4]
Mengingat begitu pentingnya integerasi ekonomi dalam menciptakan perdamaian, keterbukaan, kesejahteraan, dan jauh dari kemiskinan serta penindasan di kawasan Asia Selatan, maka ekonomi pasar sangat berpengaruh dalam hal ini.

Peran kedelapan negara dalam melakukan upaya-upaya tercapainya integerasi regional sangat dibutuhkan. Setiap negara memiliki potensi yang berbeda diukur dari segi infrastruktur, sumber daya, dan aspek lainnya. Latar belakang aspek tersebut berdasarkan sejarah masing-masing negara. Sebagian besar negara di wilayah Asia Selatan merupakan bekas jajahan Inggris, termasuk Bhutan. Negara ini memerdekakan diri pada 1907. Dalam aspek ekonomi, peran Bhutan dalam SAARC ditempatkan pada posisi low power bersamaan dengan Maladewa (Maldives). Hal ini didasari pada beberapa faktor, salah satunya adalah pembangunan jalan dan infrastruktur yang mahal sehingga tidak ada akses untuk dilalui khususnya laut, sehingga menyebabkan Bhutan tidak dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan pedagangan internasional.

Selain itu Bhutan belum pernah terlibat dalam suatu perjanjian internasional skala besar, hal ini bisa jadi sebagai salah satu faktor minimnya pemberitaan mengenai Bhutan karena dianggap tidak memberikan pengaruh besar terhadap polemik dunia. namun seiring berjalannya waktu Bhutan terus meningkatkan kerjasama dengan mitranya, terutama India dengan fokus utamanya adalah aspek ekonomi dan kemanusiaan. Selain India, mitra kerjasama Bhutan adalah tentu negara-negara Asia selatan lainnya, diluar dari itu diantaranya Indonesia dan Austria. Bhutan membina hubungan baik dengan Austria. Austria memberikan bantuan berupa dana sebanyak 2.15m euro, dengan tujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Bhutan dengan Austria. Bhutan tercatat memiliki hubungan diplomatik dengan 22 negara, termasuk Uni Eropa.

Kemajuan Bhutan tidak terlepas dari hubungan baik dengan India yang merupakan mitra dagang terbesar Bhutan, yang kedekatannya diawali dengan dukungan penuh India terhadap peralihan ideologi Bhutan dari monarki konstitusional menjadi demokrasi, kemudian Bhutan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan India pada 15 Agustus 1947.  Salah satu bentuk nyata dari kerjasama kedua negara adalah Bhutan menjual PLTA ke India, indian railways merencanakan menghubungan Bhutan selatan dengan jaringannya yang luas di bawah persetujuan yang ditandatangani pada Januari 2005 hal ini dilakukan untuk membantu Bhutan agar memiliki akses jalan yang mudah sebab Bhutan tidak memiliki jalur kereta api.
Peralihan ideologi atau sistem pemerintahan Bhutan dari monarki absolut menjadi demokrasi memberikan keuntungan dan pengaruh terhadap aspek IPOLEKSOSBUD Bhutan, terutama dalam aspek ekonomi. Selain mendapat sambutan dan dukungan baik dari dalam negeri, Bhutan juga mendapat bantuan dari negara-negara yang mendukungnya. Ekonomi Bhutan berkembang pesat, kerjasama mulai dibangun baik bilateral maupun multilateral.

Hingga akhirnya standar hidup Bhutan berkembang dan merupakan salah satu yang terbaik di Asia Selatan. Sepak terjang Bhutan di dunia internasional tidak banyak yang tahu, tidak ada pula catatan perihal partisipasi Bhutan dalam keikutsertaan dalam konflik. Artinya Bhutan bisa disebut sebagai negara yang jauh dari pertikaian. Sehingga Bhutan bisa memiliki potensi sebagai negara penyeimbang yang dapat menengahi negara lain yang sedang bertikai. Bhutan mungkin memang bukan negara adidaya yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap dunia, namun negara yang memiliki 4 pilar ini, yakni  pembangunan berkelanjutan, promosi nilai-nilai budaya, konservasi lingkungan hidup dan pemerintahan yang baik.

Promosi nilai-nilai budaya yang menjadi salah satu pilar negara ini merupakan salah satu potensi yang dimiliki Bhutan untuk mengembangkan Asia Selatan. Bhutan merupakan pasar yang potensial untuk menarik wisatawan asing, artinya sektor pariwisata yang dikembangkan akan mampu meningkatkan devisa negara. Namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi Bhutan yakni  kurangnya infrasturktur dalam negeri, keterbatasan alat transportasi dan fasilitas umum yang kurang memadai. Bhutan dianggap sebagai negara yang memiliki keunggulan dibidang lingkungan dikawasan Asia Selatan, sehingga negara tersebut menjadi pusat kehutanan SAARC. Kemudian Bhutan dapat berkontribusi melalui promosi kebudayaan. Salah satu contoh kebudayaan Bhutan adalah tari topeng dan sendratari adalah segi tradisional umum pada festival, biasanya disertai dengan musik tradisional. Sekaligus sebagai bentuk  pelestarian adat dan keagamaan.

Daftar Pustaka


[2] http://saarc-sec.org/areaofcooperation/detail.php?activity_id=5
[3] www.sdf.gov.bt
[4] www.sfc.gov.bt